Tempat Misterius Yang Lebih Angker Dari Pada Segitiga Bermuda

Tempat Misterius Yang Lebih Angker Dari Pada Segitiga Bermuda

Segitiga Bermuda lekat dengan reputasi tempat angker. Area laut di dalam garis imajiner yang menghubungkan Bermuda, Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat itu sejak dulu dikenal sebagai tempat misterius. Anomali di wilayah tersebut pernah dicatat oleh Christopher Columbus, dalam penjelajahannya ke Dunia Baru. Kompasnya tiba-tiba berperilaku aneh saat melintasi area itu. Sama sekali tak berfungsi.

Predikat horor kian menguat setelah insiden yang terjadi pada 5 Desember 1945 pukul 14.10 waktu setempat. Kala itu, lima pesawat yang dipiloti para pilot terlatih dari kesatuan Penerbangan 19 tiba-tiba hilang. Padahal cuaca sedang cerah. Para pilot sempat meminta pertolongan lewat radio, namun, mereka tiba-tiba raib. Pesawat yang ditugasi mencari mereka juga hilang misterius. Dilaporkan enam kapal terbang dan 27 orang hilang dalam peristiwa itu. Juga peristiwa hilangnya kapal induk USS Cyclops pada 1918, yang hingga saat ini jadi misteri terbesar dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat.

Orang-orang pun ramai memberi julukan. Ada yang menyebut ‘Segitiga Setan’, ‘Limbo the Lost’, atau ‘Twilight Zone’. Istilah ‘Segitiga Bermuda’ terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis di Majalah Argosy pada 1964. Sejumlah spekulasi mengemuka. Beberapa orang menduga penyebab kehilangan misterus itu akibat ulah alien, monster, gas metan, atau keberadaan piramida kuno yang konon ada di sana. Ada juga yang menuding, Segitiga Bermuda adalah rumah iblis. Segitiga Bermuda bukan satu-satunya lokasi di dunia yang menjadi lokasi terjadinya hal-hal mengerikan yang misterius, berikut tempat misterius yang tak kalah angker dari segitiga bermuda :

Superstition Mountains

Superstition Mountains adalah tempat jajaran pegunungan yang terletak di timur Phoenix, Arizona. Menurut legenda, pada tahun 1800-an, seorang pria bernama Jacob Waltz menemukan tambang emas besar di sana. Keberadaan tambang yang disebut sebagai Lost Dutchman’s Gold Mine itu dirahasiakan. Hingga Waltz masuk liang lahat, ia tak memberitahukannya pada siapapun. Meski demikian, tambang itu tak pernah ditemukan, meski ada banyak ekspedisi yang dilakukan. Banyak orang tewas saat mencoba menemukannya.

Sejumlah orang yakin, arwah orang-orang yang kehilangan nyawa saat mencari harta karun tersebut, menghantui pegunungan tersebut. Menurut legenda Penduduk Asli Amerika, emas-emas tersebut dijaga oleh makhluk yang disebut Tuar-Tums atau ‘Orang-Orang Kecil’ — yang hidup di gua-gua dan terowongan di sana. Sejumlah anggota Suku Apache juga yakin, pintu masuk neraka berada di Superstition Mountains. Superstition Mountains juga menelan korban jiwa pada era modern.

Pada 2012, jasad Jesse Capen ditemukan di Superstition Mountains. Pria yang kala itu berusia 35 tahun terobsesi menemukan Lost Dutchman’s Gold Mine. Korban dinyatakan hilang sejak 2009. Berbekal informasi 100 buku dan peta terkait tambang emas legendaris itu, ia memulai pencarian. Capen bukan satu-satunya yang tewas saat mencari harta karun itu.

“Kami menyebut mereka sebagai pemburu Lost Dutchman’s Gold Mine,” kata Direktur Superstition Search and Rescue, Robert Cooper.

Menurut Denver Post, keluarga Peralta di Meksiko adalah yang mula-mula menambang emas dari pegunungan itu pada 1840, namun mereka diserang oleh Apache. Suku asli itu membunuh semua kecuali satu atau dua anggota keluarga tersebut saat mereka berupaya membawa emas kembali ke Meksiko. Sekitar 30 tahun kemudian, Jacob Waltz — yang dijuluki ‘orang Belanda (Dutchman)’, meskipun sejatinya dia dari Jerman — menemukan kembali tambang itu dengan bantuan seorang keturunan Peralta.

Segitiga Bermuda Angkasa

Pada 25 September 2010, satelit Space Based Space Surveillance (SBSS) milik Angkatan Udara Amerika Serikat diluncurkan. Pesawat US$833 juta itu diperkirakan memliki masa kerja setidaknya 5,5 tahun. Namun, sesaat setelah diluncurkan, SBSS melewati Atlantik Selatan, dan semuanya jadi tak terkendali. Pesawat tersebut diterjang radiasi yang melumpuhkan sensor dan perangkat elektroniknya. Tiba-tiba, satelit berharga mahal itu tak bisa melakukan apapun.

Tempat pesawat ruang angkasa menjadi paling rentan adalah di sebuah area yang sedikit lebih besar dari wilayah AS, terpusat di 300 kilometer di lepas pantai Brasil, di mana sabuk radiasi Van Allen berada pada titik terdekatnya dengan permukaan Bumi. Nama resminya adalah Anomali Atlantik Selatan atau South Atlantic Anomaly (SAA), tetapi sejumlah orang menyebutnya ‘Segitiga Bermuda Angkasa’.

Itu adalah area di mana komputer stasiun luar angkasa tiba-tiba rusak, teleskop antariksa tidak dapat beroperasi, dan satelit mendadak mengalami shutdown. Saat sabuk tersebut ditemukan pada tahun 1950-an, para ilmuwan menduga SAA bisa menimbulkan beberapa risiko. Saat peralatan elektronik yang digunakan di pesawat antariksa makin kompleks, masalah makin meningkat. Para astronot di pesawat ulang-alik menyadari bahwa komputer jinjing mereka kadang-kadang tak berfungsi saat melintasi wilayah anomali.

Mereka juga melihat kilatan cahaya aneh di depan mata mereka. Sejumlah pesawat seperti Teleskop Luar Angkasa Hubble diprogram untuk menonaktifkan instrumen rentan mereka saat melintasi SAA, untuk menghindari kerusakan. Sabuk Van Allen juga dipengaruhi badai Matahari dan cuaca antariksa dan dapat melembung dengan sangat luar biasa. Ketika itu terjadi, sabuk tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi satelit GPS dan komunikasi, serta manusia di antariksa.

Danau Anjikuni

Pada tahun 1930 seorang wartawan The Pas, Manitoba melaporkan keberadaan sebuah tempat desa kecil yang dihuni suku Inuit di dekat Danau Anjikuni. Desa itu selalu menyambut penangkap hewan berbulu yang terkadang lewat. Namun, pada tahun yang sama, seorang pencari bulu, Joe Labelle menemukan bahwa tempat orang-orang di desa itu telah menghilang. Ia juga mengaku menemukan baju yang masih dalam proses penjahitan, masih ada jarum yang tertusuk di kain. Juga ditemukan makanan yang menggantung di atas perapian. Labelle menyimpulkan, warga di sana pergi secara mendadak. Yang mengejutkan, ia juga menemukan tujuh anjing penarik kereta luncur mati kelaparan dan sebuah makam digali paksa. Konon, Labelle kemudian melaporkan hal tersebut pada Royal Canadian Mounted Police yang kemudian melakukan pencarian. Namun, tak ada seorang pun yang ditemukan.

Kisah tersebut termuat dalam buku Stranger than Science karya Frank Edwards yang terbit pada 1959. Versi lain muncul dalam novel fiksi ilmiah Whitley Strieber, Majestic. Novel karya Dean Koontz, Phantoms juga memuat hal senada. Versi paling awal dari cerita ini ditemukan pada 27 November 1930 yang ditulis jurnalis Emmett E Kelleher. Artikel itu menyebut, Joe Labelle menemukan pemukiman Eskimo yang terdiri atas enam kubah tenda. Diceritakan 25 pria, perempuan, dan anak-anak tiba-tiba raib. Artikel itu juga dilengkapi foto — yang kemudian diketahui berasal dari tahun 1909 dan tak ada hubungannya dengan isi artikel tersebut. Pihak Polisi Gunung Kanada atau RCMP membantah cerita horor yang terjadi di sekitar Danau Anjikuni. “Desa semacam itu tak mungkin ada di daerah terpencil.”

Segitiga Formosa

Sejumlah julukan tempat mengerikan Laut Iblis (Devil’s Sea), Segitiga Naga (Dragon Triangle), atau Segitiga Formosa merujuk pada tempat area Samudra Pasifik yang penuh dengan kejadian aneh. Terletak di lepas pantai Jepang dan Filipina, perairan itu konon menjadi lokasi sejumlah fenomena yang tak dapat dijelaskan termasuk anomali magnetik, cahaya, dan objek misterius. Sejumlah insiden penghilangan misterius menambah keangkerannya. Area tersebut bahkan dianggap berbahaya oleh otoritas perikanan Jepang.

Konon, pada tahun 1952, pemerintah Jepang mengirimkan sebuah kapal penelitian, Kaiyo Maru No. 5, untuk menyelidiki misteri Segitiga Formosa. Namun, bahtera tersebut, juga 31 awaknya tak pernah kembali. Mereka raib entah ke mana. Legenda lainnya menyebutkan, Segitiga Formosa menjadi faktor yang menggagalkan upaya Kubilai Khan untuk menyerang Jepang. Penguasa Mongolia sekaligus pendiri Dinasti Yuan Tiongkok kehilangan 40.000 tentara saat menyeberangi Laut Iblis.

Seperti halnya Segitiga Bermuda, sejumlah teori untuk menjelaskan fenomena misterius bermunculan. Dari alien, gerbang ke alam semesta paralel, bahkan mengaitkannya dengan benua Atlantis yang hilang. Sejumlah pihak mengaitkan hal-hal tersebut dengan aktivitas vulkanik yang tinggi di tempat wilayah tersebut.

Segitiga Michigan

Seperti halnya Segitiga Bermuda, ‘Segitiga Michigan’ adalah titik imajiner yang menghubungkan Benton Harbor, Ludington, dan Manitowoc. Meski bukti-bukti kecelakaan pesawat Northwestern Airlines 2501 di Danau Michigan mengarah pada cuaca buruk dan kesalahan mekanis, beberapa orang menduga tragedi itu terkait hal-hal supranatural. Berdasarkan buku ‘Weird Michigan’ atau ‘Keanehan di Michigan’ karya penulis asal Wisconsin, Linda Godfrey, penerbangan 2501 celaka di wilayah Segitiga Michigan. Menurut buku itu, seperti Segitiga Bermuda, anomali Segitiga Michigan menyebabkan banyak kapal dan pesawat celaka dan menghilang. Kompas dan sistem navigasi juga tak berfungsi di wilayah tersebut, belum lagi keanehan-keanehan yang lain.

“Banyak cerita aneh tentang kehilangan misterius, kejadian-kejadian aneh ketika wakti seakan melambat atau berlalu dengan cepat. Juga munculnya mahluk-mahluk aneh,” seperti tertulis dalam buku tersebut, yang dimuat laman berita Michigan, Herald Palladium.

Yang paling terkenal adalah insiden menghilangnya kapten kapal barang OM McFarland pada April 1937. Kapten kapal yang diketahui bernama George Donner menghilang dari kabinnya dalam perjalanan mengangkut batu bara dari Erie ke Port Washington. Sebelum beristirahat, Donner berpesan pada kru, untuk membangunkannya saat kapal mendekati tujuan. Namun, ketika salah satu awak kapal melaksanakan perintah sang kapten, nakhoda itu menghilang dalam kondisi pintu kabin dikunci dari dalam.

“Awak kapal melakukan pencarian secara menyeluruh, namun sia-sia, kapten kapal itu menghilang selamanya.”

Tak pernah diketahui apa yang menyebabkan Donner lenyap. Tragisnya, dia hilang tepat di hari ulang tahunnya ke-58. Orang-orang yang percaya, keberadaan Segitiga Michigan yakin, Donner hilang di wilayah itu.Kejadian misterius juga terjadi dalam kejadian kecelakaan Penerbangan 2501. Buku ‘Keanehan Michigan’ mengklaim pesawat itu hilang begitu saja. Tak ada yang tersisa– 58 penumpangnya tak pernah terlihat lagi.

“Pasukan penjaga pantai dalam jumlah banyak diterjunkan di lokasi kejadian. Yang mereka temukan hanya selimut berlogo maskapai penerbangan.”

Klaim bahwa kecelakaan ini disebabkan Segitiga Michigan tetap bertahan, meski kemudian ditemukan bagian tubuh dan puing-puing pesawat di bagian timur Danau Michigan. Sementara, ada juga puing dan tumpahan bahan bakar pesawat yang ditemukan di sekitar 18 mil barat laut Benton Harbor. Legenda Segitiga Michigan dianggap kebohongan oleh peneliti bangkai kapal tenggelam di Danau Michigan, Valerie van Heest. Menurut aktivis lembaga penelitian kapal tenggelam atau Michigan Shipwreck Research Associates yang berbasis di Belanda, itu hanya mitos.

“Tidak ada segitiga di sana, tetapi yang pasti ada banyak bangkai kapal,” kata Van Heest.

“Saya tegaskan, tidak ada segitiga misterius. Ada 6.000 hingga 10.000 bangkai kapal di Danau Michigan. Itu karena dana itu merupakan perlintasan pesawat dan kapal yang ramai, wajar jika ada banyak kecelakaan.”

Danau Poyang

Dulu, Danau Poyang adalah telaga air tawar terbesar di China. Luasnya dua kali ukuran kota London. Sejarah bahkan mencatat, salah satu pertempuran di perairan terbesar pernah terjadi di sana pada tahun 1363, di akhir Dinasti Yuan. Ribuan tewas kala itu. Sebelum akhirnya mengering, Danau Poyang memiliki reputasi mengerikan. Sebagai ‘kuburan’ kapal.

Dari awal 1960-an sampai akhir 1980-an, lebih dari 200 kapal karam di perairannya yang dianggap ‘misterius’ kala itu. Membuatnya dijuluki ‘Segitiga Bermuda China’. Lebih banyak lagi kapal tenggelam setelahnya, membuat lebih dari 1.600 orang hilang, 30 lainnya yang berhasil selamat konon menjadi tak waras. Menurut badan maritim tempat, seperti kutip dari China Gaze, kapal-kapal besar dengan muatan hingga seberat 2.000 ton pernah tenggelam di Danau Poyang.

Bahkan pada 3 Agustus 1985, ada 13 kapal yang hilang pada satu hari. Tanpa bekas. Peristiwa yang sangat langka dalam sejarah maritim. Para ilmuwan telah mencoba untuk mengungkap misteri Danau Poyang selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada penyelidikan yang telah menghasilkan kesimpulan yang konkret. Tak kurang dari para ahli perairan dalam dari Nanjing Institute of Geography and Limnology mengeksplorasi dan menginvestigasi Poyang. Jiahu Jiang, salah satu peneliti di sana mengatakan, tak masuk akal bahwa tak ada puing kapal dan jasad korban yang pernah ditemukan di bawah air, selama ekspedisi yang mereka lakukan.

Jiang juga menambahkan, tentara Jepang yang menginvasi China selama Perang Dunia II juga mengalami celaka di danau itu. Pada 16 April 1945, kapal kargo Jepang yang mengangkut harta karun dan benda antik yang dirampas dari rakyat Tiongkok karam di sana. Total berat 2.000 ton. Kapal itu raib dan tak ada awak yang selamat dari tragedi. Setelah menerima kabar tragis itu, militer Jepang memerintahkan personel angkatan laut di dekatnya untuk menyelamatkan kapal dan isinya. Dari semua penyelam yang dikirim, hanya satu yang bisa kembali ke permukaan. Dalam kondisi linglung, tak mampu bicara. Ia terlihat dicengkeram teror. Tanpa ada yang tahu kenapa sang penyelam lantas berangsur hilang kewarasannya.

Di akhir Perang Dunia II, Pemerintah China mencoba mencari kapal itu sekali lagi. Kali itu dengan bantuan Edward Boer, penyelam dan pemburu harta terkenal dari Amerika Serikat. Pada musim panas 1946, Boer dan timnya mulai bekerja. Tapi hasilnya nihil.

“Jika ada orang yang selamat dari kecelakaan di perairan tersebut, mungkin jauh lebih mudah untuk menentukan penyebabnya. Namun, tak ada,” kata Jiang.

Maka, penduduk setempat banyak menyebarkan gosip soal keberadaan monster danau, UFO, juga makhluk luar angkasa. Apa yang selanjutnya menimbulkan intrik di sekitar daerah tersebut adalah lokasi geografis Danau Poyang itu sendiri: 30 derajat utara. Banyak orang menghubungkan misteri perairan ini dengan misteri yang belum terpecahkan lainnya yang berpusat di sekitar lintang 30 derajat utara, seperti Segitiga Bermuda di Samudera Atlantik dan piramida di Mesir.

Salah satu upaya penjelasan ilmiah mengaitkannya dengan faktor makhluk air besar. Misal, lumba-lumba air tawar yang ada di Sungai Yangtze dan Danau Poyang. Hewan itu mungkin bisa membalik. Namun, fakta membuktikan, lumba-lumba tidak cukup kuat untuk membalik kapal dengan berat puluhan atau ribuan ton. Sementara, seorang ahli lokal mengaku menemukan penyebab mengapa perairan tersebut mematikan. “Gambar inframerah menunjukkan, ada wilayah pasir raksasa (sandbank) di bawah perairan Kuil Laoye. Panjangnya sekitar 6.600 kaki atau 2.011 meter membentang dari timur ke barat,” kata dia. Pasir ini menghalangi aliran air dan menciptakan pusaran air di bawah danau. “Amat mungkin pusaran itu menenggelamkan kapal,” tambah dia. Namun, teori tersebut belum bisa menjelaskan mengapa bangkai kapal-kapal itu tak ditemukan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*