SARANG INFO

Informasi Berita Terupdate Hari Ini

Category: Sport

Arsenal Membuang 7 Pemain Yang Telah Bersinar Diclubnya

Arsenal melakukan aktivitas beli-jual pemain pada bursa transfer musim dingin 2018,. Arsenal mendatangkan bomber Pierre-Emerick Aubameyang, namun sisi lain, The Gunners melego Olivier Giroud ke rekan sekota, Chelsea. Proses transaksi yang tergolong seimbang tersebut seolah tak menyiratkan ada kekhawatiran dari para pendukung The Gunners. Nyatanya, fans Arsenal masih ada yang ‘baper’ dengan sejarah mereka dalam jual-beli.

Satu yang menjadi pengalaman para fan The Gunners adalah beberapa kebijakan justru berujung pada kesulitan yang mendera. Sebagian orang menilai, kepergian Olivier Giroud sangat tepat setelah Aubameyang tampil memukau pada laga debut. Sepanjang sejarah aktivitas Arsenal pada bursa transfer pemain, ada beberapa transaksi yang dinilai justru membuat The Gunners menyesal. Berikut ini 7 pemain yang membuat Meriam London menyesal usai menjualnya:

1. Robin van Persie

Sebuah kejutan yang luar biasa kala Arsene Wenger melepas Robin van Persie ke musuh bebuyutan, Manchester United. Terlepas dari alasan non-teknis, RvP masih memiliki ketajaman di depan gawang lawan. Fans sudah melakukan protes, namun tak didengar. Hasilnya langsung memberi tamparan keras bagi Wenger dan keluarga besar The Gunners. Pada musim pertama bersama Setan Merah, Van Persie mengoleksi 26 gol, dan membantu Sir Alex Ferguson mengoleksi trofi ke-13 Premier League. Peran RvP tak bisa digantikan siapapun, termasuk dua orang yang sempat diplot, yakni Lukas Podolski dan Santi Cazorla.

2. Harry Kane

Jika Arsenal bisa mengulang waktu, hampir pasti mereka akan menahan kepergian Harry Kane. Saat itu Kane masih berusia belia, dan dianggap tak memiliki prospek. Faktor fisik menjadi alasan utama Kane terdepak dari Arsenal. Mantan Direktur Akademi Arsenal, Liam Brady mengaku, The Gunners melakukan kesalahan besar usai melepas Kane. Kini, Arsenal hanya bisa menelan ludah kala melihat Harry Kane berkembang pesat, dan dianggap menjadi satu di antara tiga pemain terbaik dunia, bersama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

3. Cesc Fabregas

Fabregas datang ke Arsenal dengan bekal tak terlalu bagus. Ia alumni La Masia-nya Barcelona, namun tak mendapat tempat maksimal. Super Fab memilih Emirates Stadium sebagai lakon hidup berikutnya. Tak sia-sia, karena Fabregas berkembang. Ia mampu mengemban tugas mengisi peran Denis Bergkamp, Robert Pires dan Fredrik Ljungberg. Sayang, setelah mengoleksi 466 kreasi gol, 86 assist dan 48 gol, Fab dianggap sudah menua, sehingga dilego ke Chelsea.

Fab kembali ke Barcelona dengan transfer 33 juta euro, namun kembali lagi ke Inggris, tiga tahun kemudian. Ia memilih Chelsea, dan tergolong berhasil. Kini, mengacu pada beberapa laga terakhir, The Gunners masih belum menemukan pemain dengan level kreasi sekelas Fabregas.

4. Serge Gnabry

Arsene Wenger terkenal mampu membidik para pemain muda, baik turun langsung ataupun menitipkan pada pemandu bakat. Namun, ada satu kesalahan saat Wenger tak sanggup memaksimalkan Serge Gnabry. Kondisi tersebut tergolong miris. Maklum, Serge Gnabry sempat mendapat sematan sebagai pesepak bola masa depan Arsenal dan timnas Jerman.

5. Ashley Cole

Bek kiri modern dan berpengalaman. Tak heran jika banyak pihak memertanyakan kenapa Arsene Wenger menerima permintaan Ashley Cole agar dipindah ke Chelsea. Bersama Chelsea, bek kiri tersebut tampil memukau. Ia mengoleksi tujuh trofi, termasuk trofi jawara Liga Champions. Sementara posisi bek kiri Arsenal selalu menjadi masalah. Beberapa nama pernah di sana, seperti Gael Clichy, Kieran Gibbs dan Armand Traore.

6. Emmanuel Adebayor

Sang bomber susah berkembang dan tak mendapat tempat di tim utama Arsenal. Emmanuel Adebayor bergabung dengan Manchester City, berbanderol 26,1 juta pounds. Ia sempat ke luar Inggris, lalu kembali ke London, bergabung dengan Tottenham Hotspur pada 2011-2012. Pada musim itu, ia mencetak 17 gol dalam 33 penampilan, termasuk dua gol ke gawang Arsenal.

7. Thierry Henry

Thierry Henry bergabung dengan Arsenal selama delapan musim, dengan catatan dua trofi Premier League, tiga gelar juara Piala FA da sempat membawa The Gunners ke final Liga Champions. Henry mengoleksi minimal 28 gol pada lima musim beruntun bersama Arsenal. Sayang, The Gunners tak memertahankan pemain asal Prancis tersebut. Henry pindah ke Barcelona dengan nilai transfer 21,6 juta pounds. Saat pindah, Arsenal langsung keteteran di area depan. Henry sanggup menjadi elemen penting bagi Barcelona, yang membuat club tersebut menyesal.

Real Madrid Pernah Menolak 5 Pemain Bintang Sepak Bola

Real Madrid telah mendapatkan pengakuan karena strateginya di bursa transfer untuk mendapatkan pemain incaran. Namun, kelihaian mereka nyatanya tidak selalu berjalan karena telah melewatkan lima pemain bintang yang pernah nyaris gabung. Bila Real Madrid turun ke bursa transfer, bisa dipastikan akan ada banyak uang yang bermain. Sebab, El Real akan berusaha melakukan cara apapun demi memboyong pemain dari rivalnya ke Bernabeu. Akan tetapi, nyatanya mereka pernah menolak beberapa pemain bintang. Kesalahan prediksi karier si pemain jadi salah satu penyebab Madrid melewatkan beberapa talenta dunia. Siapa saja pemain bintang yang pernah ditolak Real Madrid? Berikut kami sajikan daftarnya dinukil dari Sportskeeda:

1. Francesco Totti

Francesco Totti merupakan legenda yang tidak ada tandingannya mengingat masa baktinya 25 tahun yang setia untuk AS Roma. Legenda Italia itu jelas pernah dikejar hampir semua klub besar di dunia pada masa jayanya. Namun, Totti menolaknya karena cinta untuk Roma. Salah satu klub tersebut adalah Real Madrid. Kasus Totti berbeda dengan pemain lain. Los Blancos berusaha keras untuk merekrutnya saat berusia 26 tahun, namun semua usaha sia-sia belaka. Totti pun pernah merasa menyesal karena gagal gabung Madrid. Saat ditanya tentang penyesalan terbesar dalam kariernya, dia mengatakan, “Penyesalan saya tidak bermain dengan Ronaldo, pemain Brasil, dan tidak memenangkan Liga Champions bersama Roma.” Real Madrid pernah mencoba mengontraknya pada 2003, untuk memperkuat serangan mereka dan menjalin kerja sama dengan Ronaldo. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan mereka jika Totti benar-benar gabung Madrid kala itu.

2. Paul Pogba

Real Madrid berusaha keras untuk mengontrak Paul Pogba pada musim panas 2016. Namun, mereka dikalahkan oleh Manchester United, yang membayar dengan rekor dunia untuk membawanya kembali ke Old Trafford. Kalau dipikir-pikir, Real Madrid sebenarnya bisa saja menandingi MU untuk gaet Pogba. Namun, Florentino Perez enggan mengeluarkan uang banyak untuk Pogba kala itu. Padahal, Pogba ditawari ke Real Madrid untuk pertama kalinya di 2012 saat mencari peluang tim utama. Langkah tersebut tak terjadi karena El Real sudah memiliki Xabi Alonso di jajaran skuat dan Bernabeu bukanlah tempat yang bagus bagi anak muda. Kesempatan kedua datang di 2015 ketika Jose Angel Sanchez berhasil menengahi kesepakatan dengan Mino Raiola, agen pemain tersebut. Namun, Perez menolaknya lagi dan melihat dia bergabung dengan The Red Devils di Inggris.

3. Neymar

Neymar telah mendapat sorotan dalam beberapa hari terakhir menyusul rumor tentang ketertarikan Real Madrid. Florentino Perez kabarnya tak segan-segan mengeluarkan uang besar untuk datangkan megabintang PSG itu. Namun, Los Blancos sebenarnya pernah mendapatkan kesempatan merekrut Neymar dengan harga lebih murah di masa lalu. Neymar kala itu sempat menawarkan diri gabung Real Madrid pada 2006. Namun, Madrid kala itu masih tak yakin dengan bakat si pemain. Selain itu, pada 2013 Real Madrid pernah menarik diri dari persaingan untuk mengontrak Neymar karena Perez ogah mengeluarkan banyak uang kala itu untuk bintang yang belum teruji di Eropa. Padahal, Neymar kabarnya bahkan telah menyelesaikan tes medis di Bernabeu sebelum klub memutuskan untuk tidak mengontraknya. Seandainya mereka tahu bagaimana masa depan akan berjalan, Florentino Perez akan berusaha keras membawa Neymar ke Bernabeu kala itu. Menyesal, mr Presiden?

4. Paolo Maldini

Terus terang, siapa pun yang menolak Paolo Maldini pasti tak masuk akal. Los Blancos memang berusaha memburunya saat ia berada di tengah-tengah kariernya. Kembali di 2007, ketika ditanya tentang klub ia akan bergabung setelah meninggalkan Milan, Maldini menyebut Madrid. Namun nyatanya kesepakatan tak pernah terjalin dan Maldini meneruskan kariernya di San Siro.

“Satu-satunya klub di dunia di mana saya bisa menemukan tradisi dan ambisi yang sama seperti Milan adalah Real Madrid, tapi mereka tidak pernah menghubungi saya. Mungkin tahun lalu mereka melakukannya, tapi saya sudah berusia 34 tahun,” ungkap Maldini.

Andai pernyataan ini datang 10 tahun lalu, Madrid jelas akan langsung memanggil stafnya dan menelpon si pemain. Sayangnya waktu tak pernah kembali.

5. Ronaldinho

Keputusan Real Madrid untuk menolak Ronaldinho adalah salah satu transfer terburuk yang pernah dilakukan. Ada alasan di balik gagalnya Ronaldinho ke Madrid. Terlepas dari rekrutan pemain berdasarkan kualitasnya, Real Madrid juga ingin datangkan nama yang bisa jadi brand marketing bagus bagi klub. Itulah alasan mengapa mereka menolak penyihir Brasiil itu karena, menurut Perez, dia terlalu jelek. Alih-alih merekrutnya, mereka pergi dan mendatangkan David Beckham dari Manchester United. Kecurigaan Florentino Perez yang benci untuk pemain kulit hitam juga disorot oleh agen Iker Casillas, Santos Marquez, yang menuduhnya menjual orang seperti Claudio Makelele dan Samuel Eto’o karena hal itu.

Daftar Nama Hotel Termewah Yang Paling Banyak Di Kunjungi Orang

pasti banyak orang yang berliburan ada yang singgah ke Hotel Termewah untuk istirahat untuk membuang capek dari berliburan dan juga menikmati megah nya hotel hotal yang banyak di kunjungi oleh semua orang sehingga anda ingin mencoba untuk mengunjungi nya namun ada juga hotel yang menyedia kan banyak fasilitas yang sangat mewah sekali dan juga sangat nyaman untuk di tinggalin oleh semua orang,namun hotel tersebut sangat mahal sekali untuk orang yang ingin berkunjung ke hotel tersebut sehingga banyak orang yang tidak mampu untuk menginap ke hotel Tersebut.

Ini Lah Hotel Termewah Yang Dan Juga Mahal Di Dunia

Hotel Cala Di Volpe (US $ 32750)

Hotel Cala Di Volpe adalah hotel termahal di dunia yang terletak di provinsi Sassari di utara Sardinia yang dirancang oleh Jacques Couelle. Terdiri dari tiga kamar tidur mewah yang lapang dan penuh warna, area kebugaran, kolam renang, parkir gratis, suite dan area duduk terpisah, layar datar TV, WI-FI. Siridian memengaruhi kamar dekorasi dengan balkon pribadi dan teras laut yang memukau membuat tempat yang sangat menyenangkan dan berkesan bagi para tamu terhormat. Banyak layanan lainnya termasuk klub anak-anak, lapangan tenis, pantai pribadi, bar, tiga restoran namun harganya mahal semalam sekitar US $ 32.750.

Menginap Ke Hotel Termewah  Di Dunia

Hugh Hefner Sky Villa, Resor Palms (US $ 35.450)

Hotel mewah dan termahal di dunia lainnya di dunia adalah Hugh Hefner Sky Villa dengan biaya US $ 35.450 yang berada di tempat paling populer di kota Nevada Amerika juga menjadi ibukota hiburan dunia Ini adalah tujuan khusus dan populer bagi para aktor Hollywood, selebriti, selebriti bisnis, karena dapat dibeli oleh miliarder. Ini dikembangkan pada tahun 1999 oleh keluarga Maloof selama ekspansi kasino hotel Fiesta dan dibuka pada tanggal 15 November 2001.

Menghabiskan Liburan Ke Hotel Termewah  Di Dunia

Grand Hyatt Cannes Hotel Martinez (US $ 37500)

Hotel Termewah di dunia yang mahal ini didirikan oleh Emmanuel Michele Martinez putra Baron Giovanni pada tahun 1927, hotel ini terjual habis pada tahun 2012 oleh Hyatt dan berganti nama menjadi Grand Hyatt Cannes Hotel Martinez. Hotel Grand ini berisi kamar tidur master sesuai kebutuhan, teras pribadi dengan pemandangan yang indah, ruang makan terpisah, area kerja dengan meja besar, minibar, yang terletak di tepi laut Mediterania dengan pemandangan yang indah.

Laucala Island Resort (US $ 40.000)

Pemilik resor termahal ini adalah miliuner Red Bull, Dietrick Mateschitz ini adalah Pulau Kecil yang terletak di Pulau Laucala, Fiji total luas lahan 12 kilometer persegi. Salah satu resor termahal di dunia dengan biaya satu malam sekitar US $ 40.000 hanya miliarder yang mampu membeli hotel mahal ini. Lacuala menyediakan lapangan tenis, olahraga memancing, yoga, kolam renang, tamu terhormat juga menikmati menunggang kuda, golf dan pemandangan indah di hotel mewah ini. Dengan pengunjung di perbukitan Lynne di London dapat menikmati shower outdoor, kolam renang, dan perabotan alami yang apik.

Pemain Ini Gantung Sepatu karena Tidak Cinta Sepak Bola

Bagi pesepak bola, urusan si kulit bundar tidak selalu menjadi nomor satu. Sejumlah pemain memiliki hobi atau bidang kesukaan lain yang membuat mereka harus mengambil pilihan. Pemain seperti itu biasanya tidak hanya bagus dalam satu bidang. Tidak jarang jenis pemain ini malah meninggalkan sepak bola untuk sesuatu yang ternyata lebih dia cintai.

Padahal, karier mereka di lapangan hijau tidak buruk. Alasan para pesepak bola itu gantung sepatu pun tergolong unik, dari mulai sudah tidak punya gairah lagi hingga punya kesibukan lain. Soal momen ketika mereka mengambil pensiun pun sesungguhnya belum di titik usia uzur. Pilihan menggeluti dan fokus pada bidang lain menjadi alasan para pemain ini memutuskan pensiun dari lapangan hijau.

Namun bukan hanya urusan hobi, masalah spiritual juga bisa memengaruhi pikiran pemain. Berikut 4 pemain yang sudah tak cinta sepak bola hingga memutuskan pensiun, seperti dilansir Footyjokes:

David Bentley

Tottenham-David-Bentley

Di awal karier profesionalnya, David Bentley menunjukkan potensi besar. Bahkan, Bentley pernah disebut-sebut sebagai The Next David Beckham, karena posisinya yang sama, yakni gelandang sayap kanan. Arsenal dan Tottenham Hotspur pernah dia bela. Namun, Bentley ternyata memiliki masalah di luar lapangan yakni kecanduan judi sehingga kariernya anjlok.

Dia memutuskan pensiun pada 2014 ketika usianya masih 29 tahun. Alasannya kala itu karena dia sudah tak bergairah bermain sepak bola. Namun, Bentley ternyata punya kemampuan bidang lain, yakni berbisnis restoran.

Royston Drenthe

Real-Madrid-Royston-Drenthe

Punya penampilan nyetrik membuat Royston Drenthe mudah dikenali. Drenthe semat dianggap salah satu talenta bagus yang dimiliki Belanda saat itu. Hal itu pula yang membuat Real Madrid merekrutnya. Sayang, karier Drenthe tak berkembang bersama Real Madrid dan beberapa klub seperti Everton dan Hercules, yang dia bela kemudian juga tidak mengubah fakta dia pemain biasa-biasa saja. Pada usia 29 tahun, Drenthe mengungkapkan fakta menarik tentang kehidupannya di luar sepak bola. Drenthe ternyata seorang rapper dan dia memilih melanjutkan kariernya di bidang musik ketimbang sepak bola.

Hidetoshi Nakata

AS-Roma-Hidetoshi-Nakata

Nama Hidetoshi Nakata menjadi perbincangan karena mampu menaklukkan Liga Italia. Sempat bergabung dengan Perugia, karier Nakata bersinar bersama AS Roma dengan meraih Scudetto pada 2000/2001. Selain langganan Timnas Jepang, Nakata juga sempat membela beberapa klub Italia seperti Parma, Bologna, dan Fiorentina. Dia juga sempat bermain untuk Bolton Wanderes pada 2006, sebelum akhirnya memilih gantung sepatu pada usia 29 tahun.

Alasannya pensiun karena dia ternyata lebih tertarik pada dunia modeling. Nakata memang menggeluti dunia fashion usai pensiun, bahkan ia jalani hingga sekarang.

Carlos Roa

Argentina-Carlos-Roa

Timnas Argentina pada Piala Dunia 1998 pernah punya kiper tangguh bernama Carlos Roa. Hebatnya, Roa punya keahlian bagus dalam adu penalti, yang membuatnya semakin dikenal luas. Akan tetapi, Roa dikenal sebagai sosok yang religius baik di luar maupun di dalam lapangan. Keputusannya pensiun pada usia 29 tahun juga tidak lain karena alasan agama.

Pada baru tahun sebelumnya dia bersinar di Piala Dunia 1998 bersama Timnas Argentina. Roa meyakini dunia akan segera kiamat sehingga memilih gantung sepatu dan fokus beribadah.

Juara Perbasi Cup 2017

Pelita Jaya EMP Jakarta sukses menjadi juara Perbasi Cup 2017 dan Pelita Jaya mengalahkan Satria Muda Pertamina di final dengan skor 82-77. Pada final yang digelar di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, pada hari Jumat (10/11/2017), pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Pelita Jaya memimpin dengan skor 21-20 di kuarter pembuka.

Namun, pada kuarter dua Pelita Jaya berhasil memperlebar keunggulan dan memimpin hingga kedudukan menjadi 44-33. Memasuki kuarter tiga, Satria Muda memberikan perlawanan yang sangat sengit. Banyak drama yang tersaji, karena keputusan wasit, mengingat hujan technical foul terjadi di laga tersebut.

Pelita Jaya Menjadi Juara Dan Mengalahkan Satria Muda Pertamina di Final

Tensi semakin tinggi ketika memasuki kuarter penentuan dan pada saat kedudukan kedua tim menjadi 62-60, Arki Dikania Wisnu yang sengaja mendorong Respati Ragil ketika akan melakukan lay up, diganjar technical foul. Dia mendapatkan double technical foul, karena dinilai bereaksi terlalu emosional dan akhirnya Arki pun foul out.

Sampai akhirnya, Pelita Jaya berhasil membungkus kemenangan dengan skor 82-77 dan sukses menjadi juara. “Saya memberi kredit kepada pemain dan bayangkan kami lima kali menang terus dan tidak ada istirahat tapi mereka tetap mau, bahkan kehilangan pemain, kunci mereka juga tidak menyerah. Benar-benar kredit buat pemain dan mereka luar biasa sekali, pantang menyerah, kerja keras, saya sangat apresiasi mereka, sebagai pelatih dari Pelita Jaya, Johannis Winar. “Pada pertandingan tadi pemain memang sempat terbawa emosi, karena tekanan tinggi tapi ini adalah game, Ujar dari pelatih Pelita Jaya.

Perbasi Cup sendiri menjadi ajang pemanasan bagi Pelita Jaya menuju kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) musim 2017/2018. Ahang, panggilan karib Johannis Winar, meminta timnya untuk tidak terlalu larut dengan kemenangan tersebut, apalagi jika ke depan bertemu kembali dengan Satria Muda.

Pekerjaan berat tetap, jika bertemu Satria Muda harus bisa setop Dior Lowhorn (pemain asing SM). Tadi, kami bermasalah di sana. Selain itu, tim-tim lain juga pasti berpikir apa yang Satria Muda buat terhadap kami dan akan dicoba juga dibuat kepada kami di kompetisi, karena itu, kami harus perbaiki itu semua.

Pada pertandingan tadi, pemain asing pelita Jaya Wayne L. Bradford menyumbang poin terbanyak yaitu 28 poin, 5 rebound, dan 8 assist. Sementara Ponsianus Nyoman Indrawan dengan mempersembahkan 10 poin, 7 rebound, 3 assist. Sementara itu, pelatih Satria Muda, Youbel Sondakh, mengakui jika pertandingan final berlangsung cukup kompetitif.

Permainannya bagus dan inilah dinamika bermain basket dan membuat penonton ada entertainment juga. Ya, nanti kami akan membalas di liga. Pemain asing Satria Muda, Dior Lowhorn, menjadi yang terdepan dalam pengumpulan poin. Dia menyumbang 29 poin dan enam rebound sehingga mereka menjadi pemenang.

SARANG INFO © 2018 Frontier Theme